Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan

Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan

Yasraf Amir Piliang / Dec 11, 2019

Dunia Yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas batas Kebudayaan Bayangkan bahwa dunia itu seperti selembar kertas Bagai seorang ahli origami lipatlah kertas tersebut menjadi dua empat delapan enam belas dan seterusnya sampai pada satu titik kertas itu tidak

  • Title: Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan
  • Author: Yasraf Amir Piliang
  • ISBN: 9786029876208
  • Page: 130
  • Format: Paperback
  • Bayangkan bahwa dunia itu seperti selembar kertas Bagai seorang ahli origami, lipatlah kertas tersebut menjadi dua, empat, delapan, enam belas, dan seterusnya, sampai pada satu titik kertas itu tidak bisa dilipat lagi, bagaimanapun dilakukan Kertas itu tidak dapat dilipat lagi disebabkan ada batas kemampuan struktur kertas tersebut yang menahan perubahan dirinya.PemaksaaBayangkan bahwa dunia itu seperti selembar kertas Bagai seorang ahli origami, lipatlah kertas tersebut menjadi dua, empat, delapan, enam belas, dan seterusnya, sampai pada satu titik kertas itu tidak bisa dilipat lagi, bagaimanapun dilakukan Kertas itu tidak dapat dilipat lagi disebabkan ada batas kemampuan struktur kertas tersebut yang menahan perubahan dirinya.Pemaksaan berupa penekanan, pemadatan, pemampatan, atau perusakan akan memungkinkan kertas dilipat lebih lanjut Akan tetapi, ini berarti kita melampaui batas batas struktur, sifat, dan karakteristik yang seharusnya tidak dilewati Melipat melewati batas yang seharusnya tidak dilewati melalui cara pemaksaan, pemadatan, pemampatan, penekanan, perusakan, dan pengerdilan miniaturisasi itulah lukisan sesungguhnya dari apa yang disebut sebagai dunia yang dilipat yang ingin dilukiskan dalam buku ini.Melipat Waktu, Melipat Ruang, Melipat Tanda, Melipat Budaya itulah empat bahasa besar yang termuat dalam buku ini Berbagai fenomena budaya kontemporer dibedah dan dianalisis menggunakan berbagai teori yang bisa dikatakanbelum lama diperkenalkan kepada publik Indonesia Dalam buku ini, Yasraf juga memberikan paparan mendasar tentang berbagai teori yang digunakannya, sehingga memudahkan pembaca untuk memasuki berbagai telisikannya, serta menunjukkan bahwa teori teori tersebut bukan semata tempelan agar terkesan ilmiah dan berwibawa.Dalam edisi ketiga ini, telah dimasukkan kembali Pengantar Penulis , Prolog dan Epilog dari edisi kesatu, mengganti dua tulisan lama dengan tujuh tulisan baru, plus sebuah postscript dan sebuah DVD berisi kuliah yang meresume materi buku Dunia yang Dilipat ini Inilah salah satu buku yang wajib dibaca bagi mahasiswa, dosen atau khalayak umum yg ingin memahami budaya kontemporer sembari mengamati dari dekat jeroan budaya tersebut.

    • Best Read [Yasraf Amir Piliang] ✓ Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan || [Psychology Book] PDF ✓
      130 Yasraf Amir Piliang
    • thumbnail Title: Best Read [Yasraf Amir Piliang] ✓ Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan || [Psychology Book] PDF ✓
      Posted by:Yasraf Amir Piliang
      Published :2019-09-06T00:14:50+00:00

    About "Yasraf Amir Piliang"

      • Yasraf Amir Piliang

        Yasraf Amir Piliang is a nationally known scholar of cultural studies and postmodernist theories He has published in journals of cultural studies and social sciences He has written several groundbreaking books that excite Indonesian humanities community He finished his bachelor of design degree at ITB and a master s degree at St Martin College of Art and Design His research interests include design and culture, product semantics, design postmodernist theories, and cultural studies.Bibliography Sebuah Dunia yang Dilipat Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme, Penerbit Mizan , 1997 Hiper realitas Kebudayaan Semiotika, Estetika, Posmodernisme, LKIS, 1999 Sebuah Dunia Yang Menakutkan Realitas Kekerasan dan Hiperkriminalitas, Penerbit Mizan, Bandung, 2000 Hiper moralitas Mengadili Bayang bayang, Penerbit Belukar Budaya, Yogyakarta, 2003 Dunia yang Berlari Mencari Tuhan tuhan Digital, Penerbit Grasindo Hiper semiotika Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Penerbit Jalasutra, Yogyakarta, 2003 Hantu hantu Politik dan Matinya Sosial, Penerbit Tiga Serangkai, Solo, 2003 Pos realitas Realitas Kebudayaan di dalam Era Pos metafisika, Penerbit Jalasutra, 2004Journals Terkurung di antara Realitas realitas Semu Estetika Hiper realitas dan Politik Konsumerisme , Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur an, nomor 4, Vol V 1994 Tamasya di antara Keping keping Masa Lalu , Jurnal Kebudayaan Kalam, Edisi 2, 1994 Estetika dan Abnormalitas Seni dan Komponen Komoditi , Majalah Kajian Ekonomi dan Sosial Prisma, LP3ES, No 11, 1994 Merayakan Abnormalitas Identitas di Zaman Pluralisme Kebudayaan , Jurnal Kebudayaan Kalam, No 5 1995 Wawasan Semiotika Posmodernisme , Jurnal Seni Rupa, Volume I, 1995 Etnosentrisme Isyu Politik Kebudayaan Dunia Ketiga , Jurnal Seni Rupa, Volume II, 1995 Kekuasaan dan Kecepatan , Majalah Kajian Ekonomi dan Sosial Prisma, LP3ES, No 8, Tahun XXV, 1996 Global Lokal Mempertimbangkan Masa Depan , Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia, Tahun X, 2000 Fenomena Sufisme di Tengah Masyarakat Pos modern Sebuah Tantangan Bagi Wacana Spiritualitas , Jurnal Kajian Ilmu ilmu Islam Al Huda, Volume 1, Nomor 2, 2000 Public Sphere dan Cyber democracy , Jurnal Demokrasi HAM, Vol 1, Nomor 2, November 2000 Cyber space, Cyborg dan Cyber feminism Politik Teknologi dan Masa Depan Relasi Gender , Jurnal Perempuan, No 18 2001 Posmodernisme dan Ekstasi Komunikasi , Jurnal Komunikasi Mediator, Volume 2, Nomor 2, 2001 Terkurung di antara Ruang ruang Kegilaan Ekstasi Kapitalisme, Posmodernisme dan Cyberspace, Jurnal Pemikiran Kebudayaan Insight, Edisi 1, 2001.


    604 Comments

    1. Dari awal kuliah filsafat, saya sudah punya nih buku. Saya mencoba mencernanya, tapi tidak bisa. Kurasa yang membuat orang bingung, bukanlah pemaparannya, tapi kesatuan buku itu sendiri yang tidak tercermin di dalamnya. Dan memang, Dunia yang Dilipat, merupakan kumpulan artikel dari si pengarang, bukannya buku utuh. Akhirnya saya mencoba membaca sebagai artikel lepas yang tidak terkait antara satu bab dengan bab lainnya, dan ternyata berhasil. Pemaparan Piliang memang bagus, ia berusaha menggamb [...]


    2. Edisi terbaru dari karya-karya Yasraf sebelumnya. Saya terkesiap ketika seorang teman yang sedang mengambil kuliah 'cultural studies' di IKJ mengatakan kalau buku ini tidak dijadikan referensi untuk mereka. Apa itu benar? Saya perlu penelusuran lebih jauh untuk hal tersebut. Yang jelas, permusuhan 'ideologis' Yasraf dengan pemikiran post-modernisme ekstrim dalam logika kapitalisme global sangat terasa dalam buku ini. Paling tidak, perspektif yang digunakan oleh penulis adalah sebuah kritik sekal [...]




    3. Oh gosh where should I start. Sure yes, this book is pretty dated in the age of post-truth—or Graham Harman called it post-reality—information. Pak Yasraf's—for the reason of being respectful to him for being the sought after thinker in my previous university I write his name with honorific—thesis on post-modernism is indeed important for cultural studies in Indonesia. However, his writing style is too annoying for me. It always repetitive and redundant to the level that it seems he does [...]


    4. 145626 Ketika Yasraf baru muncul dan postmo sedang heboh, sempat juga kagum pada penulis ini. Sempat kepikiran, rupanya beginilah gaya menulis yang khas postmo. Tapi baru pada artikel ketiga segera terasa pengulangan gaya, dengan sedikit sekali substansi baru.Membosankan.Semakin ke sini, Yasraf tak beranjak. Terus berasyik masyuk dengan gayanya. Sempat-sempatnya lagi, di bagian pengantar, memuji diri sendiri, walah nggak sopan. :)Setelah membaca perdebatan di milis jurnalisme yang dipicu kritik [...]


    5. Salah satu buku Seri Alaf Mizan yang menggugah fantasiku tentang realitas masa depan dimana teknologi dan budaya saling berkelit-berkelindan. Aku membaca ini tidak lama setelah membaca Being Digital (Negroponte).Sayangnya tidak banyak detil yang kuingat lagi sekarang. Buku masih tersimpan di lemariku di Surabaya, mungkin sedikit berdebu.


    6. saya telat baca buku ini. edisi 'Yasraf' yang pertama kali saya baca malah "Hipersemiotika." sy lebih suka buku yg Hipersemiotika. pemikiran Yasraf lebih matang dan tdk lagi 'begitu genit' dengan tokoh postmo yang seringkali pemikirannya 'kurang' kontekstual dengan kultur Indonesia yg pra-modern!


    7. tidak ada yang baru ketika saya membacanya saat buku ini baru diterbitkan cetakan I tahun 1998 (atau kurang) laluterus terang, harapan saya terlalu tinggi, tapi ketika dibaca yaaah. cuma segitu aja??? hehehe









    8. untuk ukuran indonesian people, buku ini termasuk buku yg berhasil `melompat` dari pembacaan biasa menjadi satu sintesa apik tentang dimensi fantasi dalam wacana posmodern


    9. klasik, klasiki mungkin bukan lagi barang baru di sana, tapi di Indonesia masih jarang khazanah baru yang mencerahkan seperti iniri, sedikit "hiperrealitas". hehehe





    Leave a Reply